BAB II
Asmaul Husna
Dalam agama Islam, Asma'ul husna
(Arab:
أسماء الله
الحسنى, asmāʾ allāh
al-ḥusnā) adalah nama-nama Allah yang indah dan baik.
Asma berarti nama (penyebutan) dan husna berarti yang baik atau yang indah,
jadi asma'ul husna adalah nama nama milik Allah yang baik lagi
indah.
Sejak dulu para ulama telah banyak
membahas dan menafsirkan nama-nama ini, karena nama-nama Allah adalah alamat kepada
Dzat yang mesti kita ibadahi dengan
sebenarnya. Meskipun timbul perbedaan pendapat tentang arti, makna, dan
penafsirannya akan tetapi yang jelas adalah kita tidak boleh musyrik
dalam mempergunakan atau menyebut nama-nama Allah ta'ala. Selain
perbedaaan dalam mengartikan dan menafsirkan suatu nama terdapat pula perbedaan
jumlah nama, ada yang menyebut 99, 100, 200, bahkan 1.000 bahkan 4.000 nama,
namun menurut mereka, yang terpenting adalah hakikat Dzat Allah SWT yang harus
dipahami dan dimengerti oleh orang-orang yang beriman seperti Nabi Muhammad.
Asma'ul husna secara harfiah
adalah nama-nama, sebutan, gelar Allah yang baik dan agung sesuai dengan sifat-sifat-Nya.
Nama-nama Allah
yang agung dan mulia itu merupakan suatu kesatuan yang menyatu dalam kebesaran
dan kehebatan milik Allah.
Para ulama berpendapat bahwa
kebenaran adalah konsistensi dengan kebenaran yang lain. Dengan cara ini, umat Muslim
tidak akan mudah menulis "Allah adalah ...", karena tidak ada
satu hal pun yang dapat disetarakan dengan Allah, akan tetapi harus dapat
mengerti dengan hati dan keterangan Al-Qur'an
tentang Allah
ta'ala. Pembahasan berikut hanyalah pendekatan yang disesuaikan dengan konsep akal kita yang sangat
terbatas ini. Semua kata yang ditujukan pada Allah harus dipahami
keberbedaannya dengan penggunaan wajar kata-kata itu. Allah itu tidak dapat
dimisalkan atau dimiripkan dengan segala sesuatu, seperti tercantum dalam surat
Al-Ikhlas.
“
|
”
|
Para ulama menekankan bahwa Allah adalah sebuah nama
kepada Dzat yang pasti ada namanya. Semua nilai
kebenaran mutlak hanya ada (dan bergantung) pada-Nya. Dengan demikian, Allah Yang Memiliki Maha Tinggi. Tapi juga Allah Yang Memiliki Maha Dekat. Allah Memiliki Maha Kuasa dan juga Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Sifat-sifat Allah
dijelaskan dengan istilah Asmaaul Husna, yaitu nama-nama, sebutan atau gelar yang baik.
A. Ar- Razaq Allah memenuhi kebutuhan semua makhluknya.
Allah memberikan rezeki kepada siapa saja yang dikehendakinya , baik kepada
orang yang beriman maupun kepada orang yang kafir.
Kalian
mungkin tidak dapat menghitung nikmat Allah yang diberikan kepada kalian
.
Kata
Ar-Razzaq diambil dari kata Razaqa atau Rizq yang artinya rezeki.
Contoh
rezeki antara lain berupa pangan dan pemenuhan kebutuhan.
Dalam
al-Qur’an kata ar-Razzaq terdapat dalam surat az-Zariyat ayat 58 : Artinya :
“Sesungguhnya Allah Dialah Maha pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi
sangat kokoh.”
Ar-Razzaq
adalah Allah yang berulang-ulang dan banyak sekali memberi rezeki kepada
mahluk-Nya. Rezeki adalah segala pemberian Allah yang dapat dimanfaatkan.
Setiap
makhluk telah dijamin rezekinya oleh Allah SWT. Tetapi bukan berarti Allah
memberikannya begitu saja.
Manusia harus berusaha. Misalnya agar kebutuhannya terpenuhi, maka manusia
harus bekerja. Jaminan Allah terhadap rezeki manusia, hewan dan tumbuhan
berbeda-beda. Karena kebutuhan manusia sangat banyak, maka manusia dianugerahi
sarana yang lebih sempurna. Manusia diberi akal, ilmu dan pikiran agar dapat
memenuhi kebutuhannya. Rezeki bayi dan orang dewasa pun berbeda. Bayi hanya
menunggu makanan yang siap dan menanti untuk disuapi. Sedangkan orang dewasa
tidak demikian. Allah menyiapkan sarana dan manusia diperintahkan
mengolahnya.
Allah
memberikan rezeki kepada hambanya berupa tanaman dan hewan , tanaman mengambil
makanan dari air , tanah mengambil oksigen dari udara , matahari menyinari
tanaman , tanaman menghasilkan biji- bijian dan buah-buahan.
B. Al- Mughni Al-Mughni artinya Allah yang memberi
kekayaan.
Allah adalah zat yang memberi kekayaan kepada manusia.
Allah
Maha Kaya dan juga Maha Pemberi kekayaan. Kekayaan Allah tidak akan berkurang
karena dibagikan kepada semua hamba-hamba-Nya. Karena Allah benar-benar Maha
Kaya.
Seperti
dalam firman Allah dalam surat Al-Hajj ayat 64 : Artinya : “Kepunyaan Allah-lah
segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. dan Sesungguhnya
Allahbenar-benar Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” Manusia harus rajin bekerja dan
berdoa kepada Allah. Manusia yang rajin pasti akan diberi kekayaan oleh Allah.
Karena Allah Maha Kaya dan Maha Pemberi Kekayaan. Oleh karena itu berdoalah kepada
Allah dengan membaca “Ya Mughni”. Orang yang tidak mau berdoa kepada Allah
berarti dia adalah orang yang sombong. Apalagi jika ia berdoa kepada selain
Allah berarti ia termasuk orang yang musyrik (menyekutukan Allah). Kekayaan
tidak hanya berupa uang yang melimpah, emas, dan sebagainya. Tetapi sekedar
mencukupi kebutuhan kita itu sudah merupakan kekayaan. Karena kekayaan sejati
adalah kekayaan hati. Seperti dalam sabda Nabi Muhammad SAW
:
لَيْسَ الْغِنىَ عَنْ كَثْرَةِ
الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنىَ غِنىَ النَّفْسِ
Artinya : “Kaya itu bukanlah kaya harta, tetapi kaya jiwa
atau
hati ” (HR. Bukhari-Muslim).
Sifat
Allah yang selalu memberi kepada hamba-hamba-Nya perlu kita contoh. Apabila
kita diberi kekayaan yang melimpah, bersyukurlah kepada Allah.
Salah
satunya dengan cara bersedekah kepada orang yang membutuhkan. Sebagai anak yang
beriman , minta tolong lah kepada Allah , Allah Maha Kaya , Allah senang kepada
anak yang minta pertolongan ini bukti bahwa kalian membutuhkan Allah. Minta
pertolongan hanya kepada Allah yang Maha Kaya.
C. Al- Hamid Al-Hamid artinya Allah adalah Tuhan yang Maha
Terpuji.
Hanya Allah pemilik segala pujian. Apa yang kita miliki semua pemberian dari
Allah.
Allah
telah menciptakan air dan makanan untuk mencukupi kehidupan
hamba-hamba-Nya.
Allah
menganugerahkan kita panca indera untuk menikmati indahnya alam yang diciptakan
oleh Allah.
Allah
juga menciptakan udara untuk bernafas.
Allah
pemilik segala yang ada di langit dan di bumi.
Seperti
dalam firman Allah dalam surat as-Saba’ ayat 1 : Artinya : “Segala puji bagi
Allah yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi dan bagi-Nya (pula)
segala puji di akhirat. dan Dia-lah yang Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui.”
Ucapkan Alhamdulillah sebagai tanda rasa syukur dan pujian kepada Allah.
Karena
semua kenikmatan hanya berasal dari Allah.
Hanya
Allah saja yang maha terpuji.
Allah
tidak menyukai orang yang selalu pamer dan ingin dipuji.
Karena
jika kita beribadah karena ingin dipuji, berarti ibadah kita tidak ikhlas. Jika
tidak ikhlas akan terjerumus kedalam sikap ria (selalu ingin dipuji).
Ikhlas
adalah beribadah karena mengharap ridha dari Allah semata.
D. As- Syakur Asy-Syakur artinya Allah yang Maha
Mensyukuri (yang berterima kasih).
Sebagai bukti bahwa Allah bersifat asy-Syakur adalah Allah selalu memberi
balasan kepada orang-orang yangberbuat baik. Bahkan Allah melipatgandakan
pahalanya. Orang yang selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah,
maka Allah akan membalasnya dengan menambah nikmat kepada orang tersebut. Oleh
karena itu, kita harus meneladani sifat tersebut. Kita harus berterima kasih
kepada orang yang berbuat baik kepada kita. Jika kita ditolong atau diberi
sesuatu oleh orang lain maka ucapkanlah terima kasih. Lebih baik lagi jika
disertai dengan doa dengan mengucap Jazakallahu khairan kasiran yang artinya
semoga Allah membalas kebaikanmu. Orang-orang yang tidak mau berterima kasih
kepada orang lain sama dengan ia tidak bersyukur kepada Allah SWT.
Sesuai
sabda Nabi Muhammad SAW. : مَنْ لمَ
ْيَشْكُرِ النَّاسَ لمَ ْيَشْكُرِ اللهَ
Artinya : “ Barang siapa yang tidak
berterimakasih
kepada manusia berarti tidak bersyukur kepada Allah” (HR. Ahmad dari Abu
Hurairah)

0 komentar:
Posting Komentar